Piala dunia kali ini dipenuhi dengan banyak kejutan. Banyak tim-tim unggulan berguguran di fase penyisihan dan banyak pula tim-tim yang hanya dianggap sebagai pelengkap belaka berubah menjadi tim-tim yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Banyak orang terheran-heran melihat penampilan tim-tim unggulan seperti Prancis, Italia, Inggris, dan Brazil yang baru saja tumbang di tangan Belanda di perempat final. Kali ini gw akan mengungkap kegagalan tim-tim tersebut disini. So, selamat menikmati ulasan gw ;-)
1. Prancis
Pada piala dunia kali ini, performa tim ayam jago ini mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Dimulai dari kelolosan kontroversial mereka dari kualifikasi piala dunia zona Eropa berkat umpan "tangan tuhan"-nya Thierry Henry kepada William Gallas saat mereka mengalahkan Irlandia pada laga play-off. Kelolosan mereka tersebut dianggap sebagai ketidaksiapan mereka dalam menghadapi piala dunia kali ini.
Selain itu, dalam susunan pemain yang dibawa ke Afrika Selatan, tidak terdapat beberapa nama bintang seperti Karim Benzema dan Samir Nasri. Banyak pihak yang mempertanyakan keputusan Raymond Domenech dengan tidak mencantumkan nama mereka dalam skuad Prancis. Penampilan Karim Benzema memang jauh dari yang diharapkan saat membela Real Madrid musim lalu, namun kemampuan Benzema dalam menjebol gawang lawan tidak bisa dipandang sebelah mata. Lain halnya dengan Benzema, Samir Nasri menunjukkan penampilan yang cukup mengesankan bersama Arsenal. Gol indah Nasri saat melawan FC Porto pada Liga Champion musim lalu menunjukkan bahwa kemampuannya sebagai gelandang kelas dunia tidak bisa acuhkan begitu saja. Nasri pun mempertanyakan keputusan Domenech yang tidak membawanya ke Afrika Selatan.
Ketika piala dunia bergulir, penampilan Prancis tidak mencerminkan finalis piala dunia 2006. Mereka hanya mampu bermain imbang saat berhadapan dengan Uruguay pada laga perdana dan dikalahkan meksiko pada laga selanjutnya. Hasil mengecewakan tersebut embuat para pemain Prancis gerah dengan taktik dan keputusan Domenech dalam menentukan pemain yang dijadikan starting line-up dan berujung pada pemberontakan pemain-pemain Prancis dengan memboikot latihan yang disebabkan ketidaksetujuan mereka terhadap keputusan Domenech dan FFF (PSSI-nya Prancis) yang memulangkan Nicholas Anelka yang mengecam keputusan Domenech menarik keluar dirinya saat Prancis menghadapi Meksiko. Selain itu, terjadi pula perpecahan internal yang sampai saat ini belum diketahui siapa yang menjadi dalang dibalik perpecahan ini. Dan pada akhirnya, Prancis pun tersisihkan dari piala dunia lebih awal dari yang diharapkan.
Rezim kepelatihan Domenech bisa dibilang yang terburuk dalam sejarah sepak bola Prancis. Hal ini terlihat dari minimnya prestasi yang diberikan Domenech untuk timnas Prancis. Prestasi yang bisa dicapai oleh Domenech hanyalah menjadikan timnas Prancis sebagai finalis piala dunia 2006.
2. Italia
Juara piala dunia 2006 ini harus menelan pil pahit karena mereka tersisih lebih awal dari piala dunia kali ini menyusul Prancis. Penampilan Italia pada piala dunia 2010 sangat mengecewakan karena mereka tidak berhasil meraih kemenangan pada penyisihan grup f yang dihuni oleh tim-tim yang satu tingkat di bawah Italia. Kegagalan mereka disebabkan beberapa faktor yang harus dipelajari oleh timnas Italia agar mereka bisa berbuat banyak di kompetisi internasional selanjutnya.
Marcelo Lippi terlalu besar menaruh harapan kepada pemain-pemain "winning team" yang berhasil menjuarai piala dunia 2006 di Jerman. Lippi tidak menyadari bahwa Fabio Cannavaro dkk bukanlah mereka yang 4 tahun yang lalu, mereka sudah banyak berubah akibat faktor usia yang menyebabkan mereka tidak setangguh 4 tahun yang lalu.
Terlalu banyak eksperimen formasi yang diterapkan Lippi dan adanya beberapa pemain yang ditempatkan bukan pada posisinya menjadi salah satu faktor kegagalan Italia melangkah jauh di piala dunia kali ini. Banyaknya eksperimen formasi yang diterapkan Lippi membuat para pemain bingung menerapkannya dalam permainan dan pada akhirnya banyak pemain Italia yang melakukan kesalahan.
Ketidakhadirannya seorang jendral lapangan atau seorang playmaker membuat permainan Italia terlihat berantakan dan tidak terorganisir. Pada pila dunia 2006, Italia memiliki Francesco Totti dan Alessandro Del Piero yang berperan sebagai playmaker dan pemimpin bagi rekan-rekannya. Italia sebenarnya memiliki pemain dengan karakter tersebut di dalam diri Antonio Cassano, tetapi Lippi tidak mencantumkan namanya dengan alasan Cassano memiliki temperamen yang tinggi dan bisa menghancurkan keharmonisan tim. Andrea Pirlo yang digadang-gadang sebagai jendral lapangan pun tidak banyak bermain karena masalah cedera.
3. Inggris
Penampilan pas-pasan yang ditunjukkan Inggris dalam babak kualifikasi piala dunia 2010 di luar dugaan banyak orang. Hal itu disebabkan penampilan mengesankan Inggris selama babak kualifikasi zona Eropa menguap tanpa bekas ketika Inggris menjalani babak penyisihan di grup c. Di laga awal Inggris membuang kemenangan perdana mereka akibat blunder yang dilakukan oleh Robert Green yang memaksa Inggris harus berbagi angka dengan Amerika Serikat. Pada laga selanjutnya, Inggris tidak bisa berbuat banyak saat ditahan imbang tanpa gol melawan Aljazair. Setelah laga tersebut banyak media Inggris yang mengecam penampilan Inggris dan membuat suasana di kubu timnas Inggris sempat memanas. Untungnya, Inggris mampu berhasil lolos dari fase grup berkat kemenangan tipis 1-0 melawan Slovenia. Akan tetapi, ketika Inggris menghadapi Jerman di babak 16 besar, Inggris tidak dinaungi keberuntungan karena mereka dipermalukan oleh Jerman dengan skor 4-1. Sebenarnya hasil tersebut bisa berubah jika tendangan keras Frank Lampard disahkan oleh wasit, namun wasit tidak melihat gol tersebut dan melanjutkan pertandingan yang pada akhirnya keputusan wasit tersebut mempengaruhi performa Inggris untuk mengejar ketertinggalan.
Susunan pemain yang diturunkan Fabio Capello saat babak kualifikasi zona Eropa berbeda dengan susunan pemain yang diturunkan saat babak penyisihan piala dunia 2010. Pada saat babak kualifikasi zona Eropa, Capello tidak menurunkan Steven Gerrard dan Frank Lampard secara bersamaan karena mereka berdua memiliki karakter bermain yang sama. Namun, saat babak penyisihan Capello memainkan mereka secara bersamaan dan yang terlihat adalah terjadinya bentrokan antara Gerrard dan Lampard. Gerrard yang dipasang Capello sebagai gelandang sayap selalu merangsek masuk ke posisi tengah yang diisi oleh Lampard dan hal tersebut membuat serangan yang dibuat Inggris terlihat kurang menggigit.
Peran Wayne Rooney di Inggris pun berbeda dengan peran yang dilakoninya saat membela Manchester United musim lalu. Seperti yang kita ketahui bahwa musim lalu Rooney mencetak banyak gol untuk Manchester United karena Alex Ferguson memasangnya sebagai striker tunggal. Namun pada babak penyisihan piala dunia 2010, Rooney ditempatkan Capello sebagai "second striker" yang membuat posisinya jauh dari kotak penalti lawan dan menyebabkan Rooney gagal mencetak satu gol pun di piala dunia kali ini.
Lini belakang adalah sektor yang dianggap sebagai penyebab gagalnya Inggris melaju lebih jauh pada piala dunia kali ini. Kurangnya koordinasi antar pemain di lini belakang menyebabkan Inggris harus mengakui keampuhan serangan balik Jerman yang mematikan. Posisi kiper pun menjadi sorotan karena kiper-kiper Inggris dikenal sebagai pembuat blunder. Masih membekas di ingatan kita bagaimana Robert Green melakukan blunder fatal yang membuat Inggris harus puas dengan hasil imbang dengan Amerika Serikat.
Selain itu, belakangan ini terdengar bahwa kegagalan Inggris melaju ke fase selanjutnya diakibatkan terjadinya perselisihan internal saat Inggris menghadapi Slovenia. Perselisihan ini terjadi antara John Terry dan Steven Gerrard yang pada akhirnya ditengahi oleh David Beckham dan perselisihan ini berdampak pada penampilan buruk Inggris saat menghadapi Jerman.
4. Brazil
Langkah Brazil pada piala dunia ini terbilang berat karena Brazil tergabung dalam grup maut yang dihuni oleh Portugal, Pantai Gading, dan Korea Utara. Pada laga perdana, Brazil sempat kesulitan menembus tembok kokoh Korea Utara. Namun, Brazil mampu memenangi laga tersebut berkat kegigihan mereka membombardir pertahanan Korea Utara. Permainan Brazil membaik saat mengalahkan Pantai Gading dan menahan imbang Portugal. Tim Samba pun melaju tanpa hambatan setelah berhasil mengalahkan Chile di babak 16 besar. Namun, langkah Brazil harus terhenti di perempat final setelah mereka dikalahkan Belanda 2-1.
Brazil menekan Belanda pada menit-menit awal dan akhirnya berhasil unggul, namun setelah unggul 1-0 Brazil mulai menurunkan pressing terhadap Belanda yang pada akhirnya menjadi petaka buat Brazil. Sebenarnya Brazil bisa memenangi laga kontra Belanda jika mereka mampu mempertahankan fokus mereka untuk mengalahkan Belanda, tapi sayangnya Brazil kehilangan fokus gara-gara terpancing provokasi yang dilancarkan oleh Arjen Robben. Robben melebih-lebihkan pelanggaran yang dilakukan beberapa pemain Brazil terhadap dirinya yang pada akhirnya menyulut emosi Robinho yang mengeluarkan sumpah serapah kepada Robben atas aksinya tersebut. Permainan Brazil semakin berantakan ketika Belanda berhasil menyamakan kedudukan dan dikeluarkannya Felipe Melo akibat melanggar keras Arjen Robben. Akhirnya, Brazil dihempaskan oleh Belanda berkat sundulan Sneijder pada menit-menit akhir menjelang pertandingan usai dan kegagalan melangkah ke putaran semi final pun harus diterima oleh Brazil akibat hilangnya fokus mereka serta keberhasilan Robben memprovokasi pemain-pemain Brazil.
1. Prancis
Pada piala dunia kali ini, performa tim ayam jago ini mendapat sorotan tajam dari berbagai pihak. Dimulai dari kelolosan kontroversial mereka dari kualifikasi piala dunia zona Eropa berkat umpan "tangan tuhan"-nya Thierry Henry kepada William Gallas saat mereka mengalahkan Irlandia pada laga play-off. Kelolosan mereka tersebut dianggap sebagai ketidaksiapan mereka dalam menghadapi piala dunia kali ini.
Selain itu, dalam susunan pemain yang dibawa ke Afrika Selatan, tidak terdapat beberapa nama bintang seperti Karim Benzema dan Samir Nasri. Banyak pihak yang mempertanyakan keputusan Raymond Domenech dengan tidak mencantumkan nama mereka dalam skuad Prancis. Penampilan Karim Benzema memang jauh dari yang diharapkan saat membela Real Madrid musim lalu, namun kemampuan Benzema dalam menjebol gawang lawan tidak bisa dipandang sebelah mata. Lain halnya dengan Benzema, Samir Nasri menunjukkan penampilan yang cukup mengesankan bersama Arsenal. Gol indah Nasri saat melawan FC Porto pada Liga Champion musim lalu menunjukkan bahwa kemampuannya sebagai gelandang kelas dunia tidak bisa acuhkan begitu saja. Nasri pun mempertanyakan keputusan Domenech yang tidak membawanya ke Afrika Selatan.
Ketika piala dunia bergulir, penampilan Prancis tidak mencerminkan finalis piala dunia 2006. Mereka hanya mampu bermain imbang saat berhadapan dengan Uruguay pada laga perdana dan dikalahkan meksiko pada laga selanjutnya. Hasil mengecewakan tersebut embuat para pemain Prancis gerah dengan taktik dan keputusan Domenech dalam menentukan pemain yang dijadikan starting line-up dan berujung pada pemberontakan pemain-pemain Prancis dengan memboikot latihan yang disebabkan ketidaksetujuan mereka terhadap keputusan Domenech dan FFF (PSSI-nya Prancis) yang memulangkan Nicholas Anelka yang mengecam keputusan Domenech menarik keluar dirinya saat Prancis menghadapi Meksiko. Selain itu, terjadi pula perpecahan internal yang sampai saat ini belum diketahui siapa yang menjadi dalang dibalik perpecahan ini. Dan pada akhirnya, Prancis pun tersisihkan dari piala dunia lebih awal dari yang diharapkan.
Rezim kepelatihan Domenech bisa dibilang yang terburuk dalam sejarah sepak bola Prancis. Hal ini terlihat dari minimnya prestasi yang diberikan Domenech untuk timnas Prancis. Prestasi yang bisa dicapai oleh Domenech hanyalah menjadikan timnas Prancis sebagai finalis piala dunia 2006.
2. Italia
Juara piala dunia 2006 ini harus menelan pil pahit karena mereka tersisih lebih awal dari piala dunia kali ini menyusul Prancis. Penampilan Italia pada piala dunia 2010 sangat mengecewakan karena mereka tidak berhasil meraih kemenangan pada penyisihan grup f yang dihuni oleh tim-tim yang satu tingkat di bawah Italia. Kegagalan mereka disebabkan beberapa faktor yang harus dipelajari oleh timnas Italia agar mereka bisa berbuat banyak di kompetisi internasional selanjutnya.
Marcelo Lippi terlalu besar menaruh harapan kepada pemain-pemain "winning team" yang berhasil menjuarai piala dunia 2006 di Jerman. Lippi tidak menyadari bahwa Fabio Cannavaro dkk bukanlah mereka yang 4 tahun yang lalu, mereka sudah banyak berubah akibat faktor usia yang menyebabkan mereka tidak setangguh 4 tahun yang lalu.
Terlalu banyak eksperimen formasi yang diterapkan Lippi dan adanya beberapa pemain yang ditempatkan bukan pada posisinya menjadi salah satu faktor kegagalan Italia melangkah jauh di piala dunia kali ini. Banyaknya eksperimen formasi yang diterapkan Lippi membuat para pemain bingung menerapkannya dalam permainan dan pada akhirnya banyak pemain Italia yang melakukan kesalahan.
Ketidakhadirannya seorang jendral lapangan atau seorang playmaker membuat permainan Italia terlihat berantakan dan tidak terorganisir. Pada pila dunia 2006, Italia memiliki Francesco Totti dan Alessandro Del Piero yang berperan sebagai playmaker dan pemimpin bagi rekan-rekannya. Italia sebenarnya memiliki pemain dengan karakter tersebut di dalam diri Antonio Cassano, tetapi Lippi tidak mencantumkan namanya dengan alasan Cassano memiliki temperamen yang tinggi dan bisa menghancurkan keharmonisan tim. Andrea Pirlo yang digadang-gadang sebagai jendral lapangan pun tidak banyak bermain karena masalah cedera.
3. Inggris
Penampilan pas-pasan yang ditunjukkan Inggris dalam babak kualifikasi piala dunia 2010 di luar dugaan banyak orang. Hal itu disebabkan penampilan mengesankan Inggris selama babak kualifikasi zona Eropa menguap tanpa bekas ketika Inggris menjalani babak penyisihan di grup c. Di laga awal Inggris membuang kemenangan perdana mereka akibat blunder yang dilakukan oleh Robert Green yang memaksa Inggris harus berbagi angka dengan Amerika Serikat. Pada laga selanjutnya, Inggris tidak bisa berbuat banyak saat ditahan imbang tanpa gol melawan Aljazair. Setelah laga tersebut banyak media Inggris yang mengecam penampilan Inggris dan membuat suasana di kubu timnas Inggris sempat memanas. Untungnya, Inggris mampu berhasil lolos dari fase grup berkat kemenangan tipis 1-0 melawan Slovenia. Akan tetapi, ketika Inggris menghadapi Jerman di babak 16 besar, Inggris tidak dinaungi keberuntungan karena mereka dipermalukan oleh Jerman dengan skor 4-1. Sebenarnya hasil tersebut bisa berubah jika tendangan keras Frank Lampard disahkan oleh wasit, namun wasit tidak melihat gol tersebut dan melanjutkan pertandingan yang pada akhirnya keputusan wasit tersebut mempengaruhi performa Inggris untuk mengejar ketertinggalan.
Susunan pemain yang diturunkan Fabio Capello saat babak kualifikasi zona Eropa berbeda dengan susunan pemain yang diturunkan saat babak penyisihan piala dunia 2010. Pada saat babak kualifikasi zona Eropa, Capello tidak menurunkan Steven Gerrard dan Frank Lampard secara bersamaan karena mereka berdua memiliki karakter bermain yang sama. Namun, saat babak penyisihan Capello memainkan mereka secara bersamaan dan yang terlihat adalah terjadinya bentrokan antara Gerrard dan Lampard. Gerrard yang dipasang Capello sebagai gelandang sayap selalu merangsek masuk ke posisi tengah yang diisi oleh Lampard dan hal tersebut membuat serangan yang dibuat Inggris terlihat kurang menggigit.
Peran Wayne Rooney di Inggris pun berbeda dengan peran yang dilakoninya saat membela Manchester United musim lalu. Seperti yang kita ketahui bahwa musim lalu Rooney mencetak banyak gol untuk Manchester United karena Alex Ferguson memasangnya sebagai striker tunggal. Namun pada babak penyisihan piala dunia 2010, Rooney ditempatkan Capello sebagai "second striker" yang membuat posisinya jauh dari kotak penalti lawan dan menyebabkan Rooney gagal mencetak satu gol pun di piala dunia kali ini.
Lini belakang adalah sektor yang dianggap sebagai penyebab gagalnya Inggris melaju lebih jauh pada piala dunia kali ini. Kurangnya koordinasi antar pemain di lini belakang menyebabkan Inggris harus mengakui keampuhan serangan balik Jerman yang mematikan. Posisi kiper pun menjadi sorotan karena kiper-kiper Inggris dikenal sebagai pembuat blunder. Masih membekas di ingatan kita bagaimana Robert Green melakukan blunder fatal yang membuat Inggris harus puas dengan hasil imbang dengan Amerika Serikat.
Selain itu, belakangan ini terdengar bahwa kegagalan Inggris melaju ke fase selanjutnya diakibatkan terjadinya perselisihan internal saat Inggris menghadapi Slovenia. Perselisihan ini terjadi antara John Terry dan Steven Gerrard yang pada akhirnya ditengahi oleh David Beckham dan perselisihan ini berdampak pada penampilan buruk Inggris saat menghadapi Jerman.
4. Brazil
Langkah Brazil pada piala dunia ini terbilang berat karena Brazil tergabung dalam grup maut yang dihuni oleh Portugal, Pantai Gading, dan Korea Utara. Pada laga perdana, Brazil sempat kesulitan menembus tembok kokoh Korea Utara. Namun, Brazil mampu memenangi laga tersebut berkat kegigihan mereka membombardir pertahanan Korea Utara. Permainan Brazil membaik saat mengalahkan Pantai Gading dan menahan imbang Portugal. Tim Samba pun melaju tanpa hambatan setelah berhasil mengalahkan Chile di babak 16 besar. Namun, langkah Brazil harus terhenti di perempat final setelah mereka dikalahkan Belanda 2-1.
Brazil menekan Belanda pada menit-menit awal dan akhirnya berhasil unggul, namun setelah unggul 1-0 Brazil mulai menurunkan pressing terhadap Belanda yang pada akhirnya menjadi petaka buat Brazil. Sebenarnya Brazil bisa memenangi laga kontra Belanda jika mereka mampu mempertahankan fokus mereka untuk mengalahkan Belanda, tapi sayangnya Brazil kehilangan fokus gara-gara terpancing provokasi yang dilancarkan oleh Arjen Robben. Robben melebih-lebihkan pelanggaran yang dilakukan beberapa pemain Brazil terhadap dirinya yang pada akhirnya menyulut emosi Robinho yang mengeluarkan sumpah serapah kepada Robben atas aksinya tersebut. Permainan Brazil semakin berantakan ketika Belanda berhasil menyamakan kedudukan dan dikeluarkannya Felipe Melo akibat melanggar keras Arjen Robben. Akhirnya, Brazil dihempaskan oleh Belanda berkat sundulan Sneijder pada menit-menit akhir menjelang pertandingan usai dan kegagalan melangkah ke putaran semi final pun harus diterima oleh Brazil akibat hilangnya fokus mereka serta keberhasilan Robben memprovokasi pemain-pemain Brazil.
Comments
Post a Comment