Berbicara tentang profesi guru sepertinya tidak ada habisnya, karena profesi yang sudah berusia ratusan tahun ini rasanya tidak lekang oleh waktu. Beberapa ungkapan untuk guru pun bermunculan, salah satunya adalah 'Guru Tanpa Tanda Jasa'. Ungkapan ini cukup terkenal di kalangan masyarakat pada umumnya dan di kalangan para pendidik. Saya pribadi cukup tertarik untuk mengupas lebih dalam makna dari ungkapan tersebut. Selain karena maknanya yang cukup mendalam, saya mencoba untuk membahas salah satu sifat guru yang terdapat dalam ungkapan 'Guru Tanpa Tanda Jasa', yakni tanpa pamrih.
Jika makna 'Tanpa Pamrih' ditelusuri secara harfiah, maka kita menemukan makna 'Tanpa Pamrih' adalah melakukan atau mengerjakan suatu pekerjaan tanpa mengharapkan imbalan, atau dalam istilah KBBI disebut sebagai keuntungan pribadi. Masyarakat pada umumnya sepakat dengan makna 'Tanpa Pamrih' tersebut. Namun, saya pribadi kurang setuju dengan makna tersebut jika kita melihatnya dari konteks saat ini. Jika seorang guru mengajar tanpa pamrih, berarti guru tersebut melakukannya dengan sukarela tanpa dibayar. Pemahaman seperti ini bisa berlaku jika guru tersebut sudah sangat terpenuhi kebutuhannya akan sandang, pangan, dan lain sebagainya. Namun, jika guru tersebut mengajar tanpa pamrih dengan kondisi dirinya kurang mampu untuk menghidupi dirinya beserta keluarga, apakah pemahaman tentang 'Tanpa Pamrih' di atas bisa diterapkan dalam konteks tersebut? Saya pribadi dengan tegas menjawab TIDAK, karena guru yang mengajar tanpa pamrih dengan konteks yang telah saya jabarkan sebelumnya membutuhkan biaya untuk menghidupi dirinya beserta keluarga.
Lalu, seperti apa makna 'Tanpa Pamrih' yang sesuai dengan kedua konteks yang telah saya jabarkan sebelumnya? Dalam hal ini, saya mencoba untuk membuat sebuah solusi untuk makna 'Tanpa Pamrih' yang bisa diterapkan dalam berbagai macam konteks dengan satu hal yang sangat mendasar, yakni niat. Ketika seseorang ingin memulai profesi guru, menentukan niat adalah hal yang penting dalam karier seorang guru. Ketika seseorang berniat menjadi guru hanya untuk mendapatkan uang dengan mengesampingkan tujuan-tujuan dasar dalam mengajar seperti mengayomi murid-muridnya, maka dia akan mengajarkan murid-muridnya 'hanya' mendapatkan pelajaran ala kadarnya dari guru tersebut. Namun, jika seseorang berniat menjadi guru untuk mencerdaskan orang lain sebagai tujuan utamanya serta menjadikan uang yang dia terima sebagai tujuan berikutnya, maka dia akan mengajarkan murid-muridnya tidak hanya pelajaran-pelajaran yang sudah disusun oleh kurikulum, tetapi dia akan mengajarkan pelajaran-pelajaran mengenai kehidupan yang akan membentuk karakter murid-muridnya menjadi manusia-manusia yang berkualitas.
Dari penjabaran mengenai niat seorang guru di atas, saya menarik kesimpulan untuk makna 'Guru Tanpa Pamrih' adalah guru yang berdedikasi tinggi untuk mencerdaskan murid-muridnya dengan mencurahkan semua tenaganya untuk menciptakan manusia-manusia berkualitas dengan menjadikan uang yang dia terima dari hasil mengajarnya hanya sebagai 'upah' untuk bisa menghidupi dirinya beserta keluarga.
Wallahu a'lam bishshawaab...
Coba Ru di kasih gambar (ilustrasi) spy lebih menarik :D
ReplyDelete