Itulah fenomena yang terjadi di Indonesia saat ini, dimana orang-orang yang memperjuangkan kebenaran dengan konsistensi tingkat tinggi akan dikucilkan oleh orang-orang berduit yang rakus akan kekuasaan dan tumpukan uang.
Gw sebagai salah satu dari ribuan anak bangsa kecewa dengan hal ini. Bagaimana tidak, orang-orang yang berusaha untuk mengangkat citra bangsa ini baik dari pandangan publik negeri ini sendiri maupun dari pandangan publik internasional.
Antasari Azhar, mantan ketua KPK yang terlibat permainan tingkat tinggi yang diatur oleh para koruptor-koruptor kelas kakap yang merasa risih dengan kinerja Antasari Azhar dalam menumpas korupsi di negeri ini harus menerima vonis 15 tahun penjara atas dakwaan menjadi otak pembunuhan Nasruddin Zulkarnaen. Keputusan hakim yang menjatuhkan vonis terebut tidak memuaskan semua pihak yang berujung pada sebuah hipotesis bahwa semua ini sudah direkayasa oleh para koruptor-koruptor yang berkedok pejabat. Hal yang serupa tidak hanya terjadi kepada Antasari Azhar, ada seorang hakim agung yang dimutasi karena dia tidak mau menerima suap untuk meringankan hingga membebaskan para koruptor yang sudah tertangkap basah dan akhirnya hakim agung terebut lebih memilih untuk menjadi dosen di almamaternya. Selain itu, ada seorang polisi yang sangat berani mengungkap sebuah tindak korupsi, akan tetapi nasibnya tidak jauh berbeda dengan cerita hakim agung sebelumnya.
Oleh karena itu, kita membutuhkan ketegasan dan komitmen yang telah dibuat oleh presiden tentang pemberantasan korupsi dan bersihnya aparat-aparat hukum dari makelar kasus. Kita sebagai generasi penerus harus selalu menyampaikan aspirasi kita untuk membangun negeri ini jauh lebih baik lagi.
Comments
Post a Comment