Skip to main content

Posts

Sebuah Renungan Di Penghujung Ramadhan

Setelah sempat dibuat menunggu oleh keputusan sidang itsbat yang dilakukan kementerian agama Republik Indonesia, akhirnya Idul Fitri tahun ini 'diundur' menjadi hari rabu karena setelah melakukan ru'yatul hilal di beberapa titik di berbagai daerah di Indonesia yang menghasilkan bahwa hilal tidak terlihat yang berarti bulan Ramadhan pun harus digenapi menjadi 30 hari. Terlepas dari itu semua, marilah kita bersama-sama merenungi apa yang telah kita lakukan pada bulan Ramadhan tahun ini. Bagi saya pribadi, Ramadhan kali ini cukup berbeda dengan tahun kemarin. Berbeda disini dalam arti saya mencoba untuk menerapkan nilai-nilai aplikatif yang terkandung dalam ibadah puasa seperti mengatur intensitas kecerdasan emosi yang saya miliki. Namun sayangnya, dalam hal ibadah pada bulan Ramadhan tahun ini agak menurun intensitasnya. walaupun begitu, saya mencoba untuk menjaga ibadah-ibadah pada bulan Ramadhan sebaik mungkin. Terlepas banyak atau sedikitnya amalan-amalan yang kita lakuk...

Kekuatan Azan

Oleh  Ustaz Muhammad Arifin Ilham Waktu bergerak dan terus berputar. Malam berganti dan siang kembali menjelang. Begitu seterusnya, hingga fase alam dunia ini berakhir. Tentu, tidak ada yang bisa menahan gerak sunatulah-Nya ini. "Sungguh dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang, terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang berilmu." (QS Ali Imran [3]: 190). Tiap kali terjadi pergantian dari malam ke siang atau sebaliknya, maka bagi mereka yang beriman kepada Allah, pasti akan menyambutnya dengan panggilan shalat. Saat peralihan dari malam ke siang bukankah kita disambut dengan shalat Subuh. Saat peralihan dari siang ke malam kita disambut dengan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya. Bahkan, pada tengah malam saat penghuni bumi terlelap dalam tidurnya, mereka para perindu-Nya berdiri menegakkan shalat, rukuk, dan sujud kehadirat Allah Rabbul 'Izzah.

Marhaban Yaa Ramadhan...

مرحبا يا رمضان مرحبا شهر الصيام Mohon Maaf Lahir Batin Atas Semua Kesalahan yang Pernah Saya Perbuat Secara Sengaja Atau Tidak :)  

Pentingnya Sebuah Kontinuitas

Oleh: Ahmad Fahrurrozi Sering sekali terjadi dalam hidup kita ketika kita ingin melakukan sesuatu, terlebih ketika keadaan kita sedang terpuruk dan ingin sesegera mungkin bangkit dari keterpurukan tersebut dengan memperbaiki semua kesalahan yang kita perbuat dan berusaha untuk 'tidak jatuh ke lubang yang sama'. Saya yakin anda semua (termasuk saya) sangat termotivasi untuk berusaha menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hari pertama, kedua, dan ketiga kita masih sangat antusias membawa semangat perubahan dalam hidup kita. Namun, beberapa hari berselang semangat itu pun luntur perlahan hingga tak tersisa dan pada akhirnya bukan tidak mungkin kita akan jatuh ke lubang yang sama. Ketika kita menyadari fenomena kehidupan itu pernah terjadi atau mengkin sering kali terjadi pada anda, mungkin kita akan berpikir sejenak untuk mencari solusi yang tepat untuk mengurangi, bahkan menghilangkan hal tersebut. Bagi sebagian yang telah menemukan solusinya, termasuk saya, mungkin akan memilih...

Memahami Skenario Illahi

Oleh : Agustiar Nur Akbar Hidup ini tak ubahnya seperti sebuah drama atau sandiwara. Setiap orang mempunyai perannya masing-masing. Setiap dari peran itu mempunyai konskuensi tersendiri. Namun terkadang dalam waktu tertentu seolah kita berada di bangku penonton menyaksikan drama tersebut. Sehingga kita bisa menilai, memprotes, dan mengkiritik  atas perbuatan dari lakon tertentu dan alur ceritanya. Sementara ketika kita menjadi dari lakon itu sendiri. Kita hanya menjalankan peran yang ada, tanpa bisa menilai, mengkritik dan memprotes. Allah SWT mempunyai kuasa penuh atas adegan-adegan hamba-Nya dalam setiap episode kehidupan ini. Setiap lakon mendapat perannya masing-masing. Kesemuanya menjadi satu pertunjukan yang sempurna. Bagai sebuah mata rantai kehidupan. Dalam drama manusia lakon tidak mempunyai pilihan. Ia sudah terkunci oleh plot cerita. Terpaku pada skript naskah. Sedangkan dalam drama Illahi lakon [baca manusia] mempunyai kebebasan. Lakon diberi kewenangan dalam menentukan per...

Mari Maknai Hidup

Oleh: Muhammad Fatih Hidup di dunia ini hanya sekali. Begitulah orang-orang sering bilang. Dunia, adalah tempat kita menyiapkan bekal untuk akhirat nanti. Tak bersiap-siap di dunia, maka ia akan rugi di akhirat. Ia takkan bisa kembali lagi ke dunia. Karena, walaupun ia berjanji tuk beramal sholeh di dunia, ia akan kembali terbuai dengan hawa nafsunya. Allah SWT berfirman, "...Seandainya mereka dikembalikan ke dunia, tentu mereka akan mengulang kembali apa yang telah dilarang mengerjakannya. Mereka itu sungguh pendusta." (QS. Al-An'aam: 28) Hidup di dunia ini hanya sesaat. Layaknya pengembara yang beristirahat di bawah sebuah pohon. Lalu, dia akan melanjutkan perjalanannya yang jauh. Begitulah Rasulullah SAW mengibaratkan hidup ini. Tak lebih hanya seperti sebuah tempat peristirahatan. Maka, manfaatkanlah waktu hidup kita yang sesaat ini, untuk menanam amal sholeh sebanyak-banyaknya. Agar kelak di akhirat nanti, kita bisa menuai hasil jerih payah kita itu. Isilah hidup ini...

Belajar dari "Kebodohan" Umar bin Khatab

Oleh : Agustiar Nur Akbar Kita tentu tidak asing dengan Umar bin Khatab salah satu dari empat khalifah ternama masa sepeninggal Rasulullah SAW. Umar pun terkenal dengan ketegesan dan kelembutan hatinya. Bahkan Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya ada nabi sesudahku maka ia adalah Umar bin Khatab”. (H.R Tirmidzi dan Ahmad) Dikisahkan pernah suatu ketika Rasulullah SAW mendapati Umar bin Khatab sedang menangis kemudian tertawa hampir bersamaan. Ketika ditanya apa gerangan yang menyebabkannya demikian. Umar bin Khatab menjelaskan bahwa ia teringat keadaan dirinya di masa jahiliyah dulu. Kenapa ia menangis, ia teringat ketika masa jahiliyah ia mengubur anak perempuannya hidup-hidup. Terbayang olehnya seandainya saja anak perempuannya masih hidup. Ia akan bisa bersama mereka. Dan akan mendapatkan cucu yang banyak dari mereka. Lantas yang membuatnya tertawa adalah ketika di masa jahiliyah ia terbiasa membuat patung-patung berhala. Terkadang ia membuatnya dari gandum dan manisan. Akan tetapi ...